Hari Guru Nasional dan Tantangan di Era Milenial

Hari ini Minggu 25 November 2018, masyarakat Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Momen ini merupakan sebuah penghargaan atas jasa para guru yang telah ikut mencerdaskan anak bangsa. Penetapan Hari Guru Nasional pada tanggal 25 November dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 tahun 1994.

Saat ini, Tantangan Guru berbeda dengan kondisi pertama kali penetapan Hari Guru diresmikan. Dimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terbilang masihlah stabil. Akan tetapi pendidikan di era milenial merupakan tantangan tersendiri  bagi para guru.  Saat ini bukan lagi era transfer of knowledge yang ditandai dengan pembelajaran searah dengan memosisikan peserta didik sebagai konsumen. Era sekarang ilmu pengetahuan telah menjadi barang publik dan mudah didapatkan di mana saja dan kapan saja.

Siswa harus disadarkan bahwa ilmu pengetahuan bukan untuk dihafal, tapi dimanfaatkan dalam kehidupan.  Untuk itu, materi pelajaran bukan sebagai tujuan tetapi alat. Ketika kita terjebak dalam pemikiran bahwa pendidikan bermutu lahir dari kendali administrasi yang ketat dan kaku, sesungguhnya kita telah mempersempit ruang bagi lahirnya kreativitas, dan cara itu akan mengorupsi fungsi-fungsi kemanusiaan dalam diri peserta didik. Ini mejadi kontaproduktif dengan kebutuhan kehidupan di era saat ini.

Menjadi guru di zaman now memang membutuhkan perjuangan yang super ekstra berat , Hal ini juga berkaitan dengan siswa/i yang dihadapinya adalah siswa/i di zaman now pula. Belum lagi ditambah dengan keharusan guru untuk meningkatkan keprofesionalan yang dimilikinya.

Di era milenial, pemerintah banyak mencetuskan program-program pelatihan untuk meningkaatkan profesionalisme guru. Semua pelatihan dilakukan dengan melibatkan teknologi di dalamnya, mulai dari proses pendaftaran, pengiriman berkas atau laporan pelaksanaannya yang serba online( daring ), pretest dan post test yang online dan lain sebagainya. Sehingga selain kemampuan mengoperasikan komputer/laptop, guru juga dituntut untuk mampu menguasai teknologi aplikasi yang sedang masif menglobalisasi dunia.

Dunia terasa menjadi lebih sempit dengan kemajuan teknologi ini. Facebook , Instagram , Tweeter , Email ,mbah google adalah contoh-contoh aplikasi yang akrab di telinga masyarakat. Bagaimana jika seorang guru tidak mampu menguasai kecanggihan teknologi di zaman now? Bisa dipastikan guru tersebut akan jauh tertinggal dalam pembelajaran ( karena pembelajaran semestinya dilakukan dengan presentasi multi media dengan memanfaatkan sumber belajar di dunia maya ), juga akan jauh tertinggal dalam hal informasi dan peningkatan kompetensi yang dimilikinya. Bahkan bisa saja terjadi seorang siswa akan mampu mengalahkan gurunya dalam hal penguasaan teknologi. Jika hal ini tidak diatasi maka guru akan berhenti kreativitasnya dan masyarakat akan semakin tidak percaya dengan kemampuan guru yang mendidik putra putrinya.

Untuk itu guru harus lebih kreatif dan terus mengupgrade keilmuannya guna mengimbangi perkembangan jaman serta teknologi informasi dan komunikasi yang tidak mungkin bisa dibendung. Mudah-mudahan segala jasa guru terbalaskan serta mendapatkan perhatian yang prioritas dari pemerintah sehingga benar-benar antara tugas, hak dan kewajiban dapat berjalan dengan seimbang dan berdampak pada kemajuan pendidikan di negara Indonesia tercinta ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *