Tantangan Dunia Pendidikan di Era Millenial

RTIKPASURUAN.OR.ID – Setiap tanggal 2 Mei, kita merayakan satu hari penting bagi pendidikan di Indonesia, yakni Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hardiknas tentu enggak bisa dilepaskan dari jasa Ki Hadjar Dewantara, sosok penting bagi Indonesia yang memperjuangkan hak masyarakat Indonesia dalam sektor pendidikan.

Itu sebabnya, tanggal 2 Mei yang merupakan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional setiap tahunnya. Hampir sama seperti hari ulang tahun, kita, atau bahkan bangsa Indonesia, selalu punya harapan serta pemaknaan yang berbeda di tiap perayaannya. Harapannya, agar pendidikan Indonesia jadi lebih baik dari tahun sebelumnya.

Dapat diketahui bersama karakter anak zaman now semakin semaunya sendiri, bahkan ada yang mengatakan karena banyak micin. Anak-anak cenderung egois, tidak suka bekerja sama. Hal ini disebabkan seringnya mereka lebih suka bermain game lewat ponsel android daripada permainan tradisional yang mengajarkan perilaku untuk bekerjasama.

Fenomena ini tidak bisa dipungkiri, baik itu di kota maupun di pelosok desa sekalipun. Karakter anak pada generasi millenial betul-betul sangat memprihatinkan. Mereka tidak bisa menghargai orangtua maupun gurunya. Bahkan dari mereka juga terkadang terjebak pada dunia kriminal dan narkoba. Generasi millenial dalam minat belajar juga sebagian besar mengalami kemunduran.

Generasi millenial mempunyai tujuh sifat dan perilaku sebagai berikut: millenial lebih percaya informasi interaktif daripada informasi searah, millenial lebih memilih ponsel dibanding TV, millenial wajib punya media social, millenial kurang suka membaca secara konvensional, millenial lebih tahu teknologi dibanding orangtua mereka, millenial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif, serta millenial mulai banyak melakukan transaksi secara cashless. (Zakiyyudin Baidhawy).

Generasi millenial juga berpengaruh sekali pada dunia pendidikan. Kecenderungan minat belajar yang serius mulai menurun drastis, karena millenial khususnya di Indonesia sudah kecanduan internet yang disalah gunakan bukan semata untuk mencari informasi berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

Generasi millenial cenderung beperilaku pragmatis dan instan. Karena itu, perlu disadari bersama bahwa dalam menyikapi masalah ini perlu dilakukan langkah-langkah konkrit supaya tujuan dari Pendidikan Nasional tetap konsisten dengan mengikuti era millenial ini.

Dunia pendidikan harus mampu menjawab tantangan era millennial. Guru dituntut berkreasi dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai sumber belajar, media belajar, dan proses kegiatan belajar-mengajar. Guru era millenial harus melek IT dan teknologi. Tidak ada alasan masalah guru muda atau tua, semuanya mempunyai tanggungjawab yang sama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat UUD 45. Era millenial bukan menjadi suatu hambatan, namun bagaimana guru menyikapi era millenial ini menjadi tantangan kearah kemajuan pendidikan.

Upaya menanamkan nilai-nilai karakter pada anak di era millenial bisa dilakukan dengan mengintegrasikan mata pelajaran melalui teknologi, seperti dalam pembelajaran Bahasa Indonesia anak disuruh mencari bacaan cerpen, novel, dan sastra lain yang mengandung unsur nilai-nilai moral dan kebaikan di internet.

Pendidikan karakter yang diintegrasikan dalam pembelajaran berbagai bidang studi dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi murid-murid karena mereka memahami, menginternalisasi, dan mengaktualisasikannya melalui poses pembelajaran. Dengan demikian, nilai-nilai tersebut dapat terserap  secara alami lewat kegiatan sehari – hari. Apabila nilai-nilai tersebut juga dikembangan melalui kultur sekolah, maka kemungkinan besar pendidikan karakter lebih efektif diterima oleh anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *